Wedang Jahe

Ranger Hutan yang Mantan Penebang Liar

Kurnia Sinulingga adalah salah seorang ranger di Taman Nasional Gunung Leuser untuk sisi Tangkahan, Sumatera Utara. Sebelum “bertugas” menjaga alam dan menjadi teman turis berkeliling hutan, dulu abang berambut gondrong ini adalah bagian dari geng pekerja illegal logging, menebang pohon di hutan. Apa yang membuatnya convert?

Bang Kurnia Sinulingga saat mengarungi sungai di Tangkahan. Foto: The Toilet Post

Bang, boleh cerita sedikit tentang Tangkahan waktu masih banyak kegiatan illegal logging?

Wah, parah. Dulu semua orang di desa kami kerjanya memang illegal logging. Kami pun karena nggak ada kerja lain, bantu orang tua lah di hutan. Mau gimana lagi kan, dari situ dapat uangnya.

Desa itu dulu sepi. Semua orang ke hutan, menebang pohon. Jadi, yang ramai justru di hutan. Kami dulu tinggal pun di dalam hutan. Ada camp-camp tempat kami tinggal. Pulang ke desa lima hari sekali atau seminggu sekali.

Dulu, kalau abang duduk di sini ini (di lokasi yang kini adalah restoran tepat di pinggir hutan Taman Nasional), nggak bisa terasa tenang. Dimana-mana suara mesin pemotong kayu.

Pohon yang sudah tumbang di tengah hutan, kami bawa ke sungai pakai kerbau. Dari pinggir hutan kami hanyutkan lewat sungai. Nanti di ujung sungai sudah ada mobil yang jemput kayut itu. Lalu dijual ke Toke-Toke itu. Kayu di sini macam-macam. Bang. Ada meranti sampai damar yang mahal. Semua kami tebangi.

Lalu, siapa yang mulai ajak abang berhenti menebang pohon?

Banyak Bang. Ada NGO datang, Menteri Kehutanan juga sempat datang, tapi yang paling awal ada pemuda-pemuda dari kota (Medan). Merekalah yang mendekati kami untuk kasih tahu supaya jangan lagi kami tebangi hutan.

Waktu itu, mereka dekati kami dulu yang muda-muda. Soalnya susah juga mereka kalau mau dekati yang tua-tua. Mereka bilang, “Kalau kalian menebang pohon sekarang, hasilnya cuma buat kalian, tapi kalau kalian rawat hutan, hasilnya bisa sampai anak cucu.” Itulah yang buat kami mulai berpikir waktu itu.

Langsung berhenti menebang pohon waktu itu Bang?

Ya nggak juga (tertawa). Dari mereka datang itu adalah lima tahunan sampai kami betul-betul berhenti illegal logging. Itu pun nggak gampang kali prosesnya. Kami bikinlah semacam kelompok yang menjaga lingkungan. Tapi gara-gara itu, abang-adek pun bisa jadi tak bercakapan. Berantam lah.

Waktu kami mulai bujuk-bujuk orang tua buat berhenti, muncullah peraturan yang lebih jelas untuk dilarang illegal logging itu kan. Jadi, adalah itu polisi hutan yang mulai menangkapi orang-orang penebang pohon.

Setelah itu, mulai berkuranglah illegal logging. Sempat juga sekitar enam bulan, desa ini jadi sunyi kali. Orang duduk di kedai kopi pun tak ada. Mau gimana lagi, duit tak ada kan. Jadi diamlah semua orang di rumah.

Lalu kapan mulai bangun ecotourism ini Bang?

Selama enam bulan tak ada kerjaan itu, ada NGO datang, pemuda-pemuda kota itu pun datang lagi, lalu kami diajari bagaimana cara mengelola ecotourism, bagaimana membuat cendera mata lokal.

Kami mulai bepikir, kegiatan apa yang bisa membuat turis datang. Lalu, kami diajari membuat tubing. Ban-ban dirangkai jadi satu, lalu orang bisa menumpang di atasnya untuk melewati sungai. Lalu, kami buat kegiatan trekking ke hutan. Kami juga tawarkan trekking untuk melihat tanaman obat. Di situ kami jelaskan guna tanaman-tanaman untuk penyembuhan yang macam-macam dan banyak turis suka. Lalu, ada beberapa tempat camping, di hutan dan di goa. Dari situlah lama-lama banyak orang dengar tentang Tangkahan. Mulai banyak orang datang. Lalu, mulai ada penginapan-penginapan.

Karena banyak bule yang datang, NGO juga mengajari kami bahasa asing. Inggris, Belanda, Jerman, dan lain-lain. Banyak juga turis yang bawa buku dan ditinggalnya untuk kami. Buku-buku itulah yang kami pakai untuk belajar bahasa asing.

Setelah itu, sudah nggak ada lagi illegal logging Bang?

Di awal-awal masih ada juga. Banyak juga Toke-Toke yang tak suka karena mereka susah dapat kayu. Jadi, beberapa orang suruhan Toke itu masih berusaha menebang kayu diam-diam.

Dulu sempat juga ada satu restoran dihancurkan ramai-ramai sama orang-orang yang tak suka kami menjaga hutan. Itu pun mereka buat karena dipanas-panasi Toke-Toke itu. Tapi, karena sudah makin banyak warga desa yang sadar, lama-lama mereka hilang juga.

Sekarang, setiap seminggu tiga kali, ada patroli keliling hutan. Gajah-gajah yang biasa dinaiki turis-turis itu sebenarnya gajah yang dibawa untuk patroli hutan. Lalu, kalau ada kami lihat kayu hanyut disungai, langsung kami cari pelakunya supaya ditangkap.

Sekarang sudah tak ada lagi illegal logging. Tapi masih ada bekas-bekasnya di hutan. Biasanya kami jadikan bahan cerita ke turis, supaya mereka tahu Tangkahan sudah berubah.

– The Toilet Post

Note: Untuk bisa mendapatkan contact Bang Kurnia sebagai ranger saat mengunjungi Tangkahan, silakan email ke aziz.hasibuan@gmail.com.

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s