Film / P/Review

The Perks of Being a Wallflower

Masih ingat dengan Juno? Film tentang sepasang ABG yang accidentally harus menjadi ayah dan ibu saat masih sekolah, hingga kemudian merelakan anaknya untuk diadopsi orang lain.

Rumah produksi Juno, Mr. Mudd, pada 2012 lalu merilis sebuah film coming-of-age lain berjudul The Perks of Being a Wallflower. Seperti halnya Juno, The Perks of Being a Wallflower menggunakan cara bercerita yang seolah-olah ringan, di tengah permasalahan remaja yang nggak biasa.

Cerita film ini berasal dari sebuah novel populer berjudul sama. Saya belum pernah membaca versi novelnya, namun beberapa teman yang sudah tuntas membaca mengaku suka. Yang ditunjuk menjadi penulis skenario plus sutradara filmnya pun adalah si penulis novel Stephen Chbosky.

Meski baru pertama kali menjadi sutradara (Chbosky sebelumnya beberapa kali telah menjadi penulis skenario di film dan serial), namun The Perks of Being a Wallflower sukses di pasaran. Sejumlah award juga berhasil diraih film ini. Di antaramya, People’s Choice Award untuk Film Drama Favorit dan Aktris Drama Favorit untuk Emma Watson.

Di awal, film ini seperti cerita-cerita sinetron standar. Seorang ABG cowok nerd bernama Charlie (Logan Lerman) baru masuk high school. Dia pun mengalami kesulitan bergaul dan hanya ngobrol dengan guru bahasa Inggrisnya karena Charlie memang punya ketertarikan khusus dengan dunia sastra dan tulis-menulis. Awal-awal di sekolah, dia banyak dikerjai senior.

Ketika sendirian menonton pertandingan football, Charlie berkenalan dengan dua orang senior, Sam (Emma Watson) dan saudara tirinya Patrick (Ezra Miller). Nggak seperti yang lain, keduanya menganggap Charlie sebagai teman. Dari sini, mereka kemudian sering menghabiskan waktu bersama dan Charlie mulai mencoba berbagai β€œhal” baru.

Semua masih terlihat wajar-wajar saja, sampai mulailah terbuka satu persatu masalah ketiga ABG ini. Mereka memiliki latar belakang yang nggak mudah. Sejumlah konflik kemudian muncul di antara ketiganya. Baik antara satu sama lain, maupun yang melibatkan teman-teman di sekitar mereka. Hingga kemudian Charlie mengetahui penyebab dirinya menjadi sangat introvert.

Emma Watson berakting dengan menarik di film ini, tapi pemain favorit saya adalah Ezra Miller. Setelah sebelumnya sukses menjadi seorang ABG psycho di We Need to Talk about Kevin, Miller jadi ABG unik yang menyegarkan di film ini.

After all, film ini berhasil mengisahkan cerita yang complicated dengan cara sederhana dan ringan. Kalau Anda suka Juno, kemungkinan besar Anda juga akan menikmati The Perks of Being a Wallflower. Dan, lagu-lagu yang menjadi sound track juga sama menariknya dengan Juno.

Untuk bisa menonton film ini secara legal di Indonesia, saya baru tahu satu caranya. Yaitu dengan mendownload dari iTunes Store. Namun sayangnya, film ini baru bisa didownload kalau kita memiliki akun US. Kalau belum punya, silakan cari teman yang punya akun US dan numpang nonton.πŸ™‚

Film: The Perks of Being a Wallflower
Pemain: Logan Lerman, Emma Watson, dan Ezra Miller
Penulis Skenario dan Sutradara: Stephen Chbosky
Rumah Produksi: Mr. Mudd
Tahun: 2012

– The Toilet Post

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s