Book / P/Review

Whatever You Think, Think the Opposite

Generasi sekarang sering disebut sebagai generasi instan. Maunya langsung jadi perhiasan berharga, tanpa mau disepuh emas. Maunya sukses, tapi nggak mau kerja susah.

Saya (dengan niatan supaya keliatan masih muda) boleh dibilang masih masuk generasi instan ini, yang konom bukan hanya jadi permasalahan di Indonesia, tapi juga dirasaim banyak negara di dunia.

Salah satu ciri generasi instan adalah kalau kerja gampang putus asa. Sedikit dapat tekanan, langsung pengen resign. Kadang tiba-tiba dengan alasan bahwa kerjaan yang sekarang, nggak sesuai passion.

Berat. Kalau alasannya udah passion, atasan jadi sulit tawar-menawar.

Menurut saya, passion itu memang harus dikejar. Tapi, hati-hati dengan alasan mengejar passion, karena sering kali passion cuma bungkus dari rasa bosan kerja dan pengen instan sukses.

Menurut saya, justru dengan kerja serius di tempat yang bukan passion utama kita, kadang kita bisa ketemu dengan passion secara nggak sengaja.

Bingung nggak?

Contohnya begini. Seorang kenalan saya passion-nya di dunia olahraga. Kemudian dia bekerja menjadi seorang manajer di surat kabar. Bukan di meja redaksi, melainkan di bagian manajemen.

Secara nggak disengaja, dia dapat bos yang menyukai olahraga. Suatu hari, si bos membuat kompetisi olahraga untuk surat kabar, dengan teman saya terlibat. Acara ini mendapat banyak peminat dari luar perusahaan, hingga si bos mendirikan perusahaan baru untuk mengelola kompetisi tersebut. Dan, teman saya yang punya passion di olahraga itu jadi salah satu bos di sana.

Hal yang kita tekuni dengan baik, secara nggak langsung mengantar kita ke passion.

Tapi…

Saya hari ini membaca satu cuplikan dari buku yang Whatever You Think, Think the Opposite. Buku ini berisikan quote-quote yang kadang memberi pencerahan, kadang justru bikin pemikiran makin kabur.

Salah satu quote pencerahan di buku itu adalah penjelasan bahwa dalam hidup, yang penting adalah punya tujuan. Lalu, setiap keputusan yang kita ambil, harus memperhatikan tujuan itu. Kalau memang untuk ke tujuan itu, harus resign, yah cabut lah.

Jadi, pemikiram generasi instan nggak salah-salah banget dong yah? :p Hihihi. Baca dulu cuplikan buku karangan Paul Arden itu di bawah sini.

20130208-060634.jpg

Buku ini seru banget. Hasil pinjam teman yang mau resign :p @tanskiii Makasih yahhh foto bukunya.

– The ToiletvPost

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s