Travel / What to do

Ketenangan Danau Maninjau dari Atas Puncak Lawang

Berkali-Kali Menahan Napas Menikmati Pemandangan Sumatera Barat (Bagian 2)

Danau Maninjau dari atas Puncak Lawang yang tenang

Di bagian pertama dari seri tulisan ini, saya sudah cerita tentang perjalanan hari pertama saya dan teman-teman ke Bukittinggi yang diisi dengan perjalanan indah dari Padang ke kota ini, sampai menikmati Ngarai Sianok waktu senja.

Sekarang, saya akan menceritakan perjalanan di hari kedua yang semakin seru. Pagi-pagi sekali, di hari kedua, saya kembali mampir ke Taman Panorama untuk melihat suasana Ngarai Sianok saat pagi. Indahhh sekali.

Ngarai Sianog dari Dekat

Di Taman Panorama, saya bertemu dengan salah seorang pedagang souvenir. Dia menyebutkan bahwa ada lokasi lain yang nggak kalah bagus untuk menikmati Ngarai Sianok. Namanya, Taruko. Pedagang ini kemudian menyarankan saya untuk ngobrol dengan tukang ojeg di depan Taman Panorama supaya saya diantarkan ke Taruko.

Beruntungnya, saya kembali bertemu dengan Bang Jack yang sehari sebelumnya menemani saya keliling Goa Jepang. Dialah yang kemudian mengantarkan saya ke Taruko naik sepeda motor. Naik sepeda motor di Bukittinggi masih sangat segar karena udaranya terasa masih bersih.

Dan… pemandangan Ngarai Sianok luar biasa bagus bila dilihat dari jarak dekat. Kalau sebelumnya saya melihat paduan ngarai, kabut, dan gunung, maka pagi itu saya melihat paduan ngarai bersama hamparan sawah dengan padi yang menguning… Happiness!

Ngarai Sianok dengan hamparan padi

Makin happy lagi ketika akhirnya saya sampai di Taruko. Ternyata Taruko adalah sebuah restoran yang berlokasi di pinggir sungai kecil. Yang bikin pemandangannya luar biasa adalah adanya sebuah bukit berbentuk kerucut runcing, dan di atasnya terdapat hanya satu pohon. Ditambah pemandangan kabut, lokasi ini jadi kelihatan luar biasa. “Waktu gempa dulu, banyak pohon tumbang, cuma satu pohon itu yang tahan berdiri tegak,” kata Bang Jack dengan nada suara mistis. Hehehe.

Taruko

Sebenarnya di Taruko juga terdapat kamar-kamar dan sepertinya ditujukan sebagai penginapan. Namun, saya mendengar dari penduduk sekitar bahwa Taruko belum mendapatkan izin penginapan, sehingga kawasannya nggak dialiri listrik. Mereka hanya bisa membuka rumah makan sampai maghrib dengan menggunakan diesel. Karena saya ke sini sendirian saat pagi, sore harinya, saya sempat mampir lagi membawa teman-teman.

Makan di Taruko dengan pemandangan cantik

Pacuan Kuda Bukittinggi

Setelah dari Taruko, Bang Jack mengajak saya untuk mengunjungi lokasi Pacuan Kuda Bukittinggi. Yang baru saya ketahui, ternyata banyak orang di Bukittinggi yang hobi memelihara kuda pacu. Oleh karena itu, kota ini juga sering dijadikan lokasi pertandingan pacuan kuda, baik yang nasional maupun internasional.

Di pagi hari, kuda-kuda pacu itu harus latihan. Jadi, pengunjung hanya bisa datang untuk melihat-lihat. Tapi, kalau hari sudah sore, pengunjung bisa menunggang kuda pacu dengan membayar sebesar sekitar Rp 20 ribu untuk sekali keliling area pacuan. Jadi, di sore harinya, saya kembali kemari bersama teman-teman untuk mencoba memacu kuda.

Amel yang sempet mau nangis gara-gara menunggang kuda hamil nan cranky lagi pura-pura senyum :p

Saya masih ingat waktu SMP dulu, saya pernah naik kuda keliling area ITB Bandug. Tanpa ditemani pemandu, saya memacu kuda lumayan kencang, dan seingat saya rasanya seru. Tapi, ketika di Bukittinggi lalu memacu kuda, perut saya rasanya nggak enak karena seperti dikocok kencang. Lalu, saya memelankan kuda yang saya tunggangi, dan bertanya ke seorang bapak pemandu yang sedang menemani tamu, “Kenapa yah Pak rasanya goncang sekali?”

Dia menjawab, “Abang coba lihat saja semua penunggang kuda. Mana ada yang sebesar Abang. Mereka semua kurus, makanya nggak terlalu goncang.” -_-” Terima kasih, Pak…

Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Dari seluruh perjalanan ke Bukittinggi, Puncak Lawang adalah lokasi yang paling saya sukai. Bang Sonny yang menjadi pemandu kami selama berjalan-jalan mengajak kami untuk melihat Danau Maninjau dari atas sini.

Terus terang, ekspektasi saya ketika sampai di parkiran Puncak Lawang nggak terlalu tinggi. Saya membayangkan pemandangan seperti yang ada di Puncak, Bogor. Lalu, saya mendaki anak-anak tangga sampai ke bagian tempat untuk melihat Danau Maninjauh. Begitu sampai di sana, saya langsung melongo melihat pemandangan yang indahhhh sekali.

Breathtaking view Danau Maninjau

Ada Gunung Merapi jauh di sana, Danau Maninjau di bawah, bukit-bukit, pepohonan, dan awan yang sejajar dengan mata kita, plus udara yang segar dan sejuk. Saya dan teman-teman betah sekali berlama-lama di situ untuk duduk menghangatkan diri dengan sinar matahari sambil foto-foto. Dan berkali-kali bilang, “Asli, ini bagus banget.”

Pemandangan di Puncak Lawang sebenarnya bisa juga dinikmati dengan cara terbang menggunakan paralayang. Lokasi ini juga sering menjadi tempat dilaksanakannya lomba paralayang internasional karena pemandangan yang indah. Sayangnya, ketika ke sana, cuaca sedang nggak mendukung dan angin sedang nggak mengarah ke arah yang sesuai. Jadi, kami nggak bisa mencoba paralayang di sana.

Sebagai gantinya, kami pun menjajal permainan ketangkasan dan keseimbangan yang tersedia di Puncak Lawang. Dengan hanya membayar sekitar Rp 30 ribu, kami bisa mencoba berbagai tantangan yang seru, seperti yang ada di foto-foto di bawah ini.

Meniti tali di antara pohon-pohon tinggi

Meluncur…. Seru!

Kalau sudah mengunjungi Bukit Lawang, jangan lupa untuk turun ke Danau Maninjau langsung. Di sana, ada banyak restoran seafood yang mantap dengan harga sangat murah. Semua makanannya pun fresh karena ketika kita datang, makanan itu masih berenang-renang. He he he.

Nyammmm!

Untuk mencapai Danau Maninjau. kita harus melewati Kelok 44 yang terkenal. Buat yang suka mabuk darat, bawa perlengkapan seperti minyak angin dan lain-lain yah!🙂

Pemandangan di sekitar Kelok 44

Itu tadi cerita jalan-jalan kedua dari cerita jalan-jalan saya dan teman-teman ke Sumatera Barat. Tunggu cerita berikutnya yang berisi perjalanan kami melihat Lembah Harau dan Goa Ngalau Indah.🙂

Photos: Aziz Hasibuan

– The Toilet Post

 

5 thoughts on “Ketenangan Danau Maninjau dari Atas Puncak Lawang

  1. Pingback: Sawah Menguning di Antara Tebing Lembah Harau | Food & Travel

  2. Pingback: Sate Super Mak Syukur | Food & Travel

  3. hi , saya intan dari malaysia.
    saya mau ke bukit tinngi padang untuk honeymoon, bisa emel pada sy itenary perjalanan tempat2 menarik kamu disana. juga hotel2 penginapan yang bagus tap bajet ..😉 moga jadi panduan saya nanti . makasih

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s