Travel / What to do

Terbang Naik Pesawat Capung

Pesawat Twin Otter yang saya tumpangi

Dulu, setiap kali ada teman yang cerita tentang pengalaman naik pesawat kecil, saya selalu semangat mendengarkan. Mungkin kedengaran norak, tapi naik pesawat capung adalah salah satu mimpi saya. :p Kayaknya kalau naik pesawat terbang kecil, akan lebih terasa benar-benar terbang.

Kemarin, saya akhirnya mewujudkan mimpi itu dengan terbang dari Ternate ke Tanjung Ulie Halmahera Tengah untuk urusan kerjaan. Jadi, gratis. Yeay.

Sejak masih di Jakarta pun, saya sudah semangat sama penerbangan menggunakan pesawat Twin Otter ini. Sebelum naik pesawat, seperti pada umumnya, penumpang harus mendatangi counter check in. Counter check in pesawat ini sangat sederhana. Hanya ada satu meja plus timbangan. Di sini, bukan hanya berat barang bawaan yang ditimbang, tapi juga berat badan penumpang. Sempet khawatir juga sih kalau ditolak naik pesawat gara-gara overweight, tapi ternyata saya lolos. Jangan ditanya beratnya berapa yah…

Setelah timbang, saya diberi boarding pass. Bentuknya bukan kertas sekali pakai, tapi mirip kartu yang biasa kita dapat di penitipan barang. Boarding pass ini diberikan ke petugas di pintu masuk pesawat.

Boarding Pass

Saya kemudian dapat kursi paling depan. Di sana ada sekitar 17 kursi yang tersedia dan semua penuh terisi. Karena duduk paling depan, saya berada persis di belakang dua pilot. Pintu ruang pilot dibiarkan terbuka sehingga kita bisa melihat mereka kerja. Karena nggak ada pramugari, jadi pak pilot lah yang bertugas memberikan instruksi ke penumpang tentang pemakaian seat belt dan lokasi pintu darurat. Kemudian mulailah kami terbang…

Bagaimana rasanya? Mirip naik omprengan atau angkutan umum di Jakarta. Bedanya, ini di udara. Karena ukurannya yang kecil, pesawat ini lebih terasa goyangannya. Ketika naik melintasi awan juga rasanya lebih bergetar. Emang sih kalau goyangannya agak kencang, rasanya lumayan deg-degan. Apalagi ketika mulai masuk ke awan yang gelap dan hujan muncul. Karena kita bisa melihat kaca depan pesawat dengan mudah, jadi pemandangannya pun lebih “seru” waktu hujan datang.

Salah seorang teman bilang bahwa dulu pesawat yang menyambungkan Ternate-Tanjung Ulie lebih kecil lagi dibandingkan yang saya tumpangi. “Kalau yang dulu, rasanya lebih mirip dengan naik bus kota. Kita bisa duduk di sebelah pilot. Terus pilotnya kadang suka buka jendela dan nyandarin tangan di jendela,” katanya.

Yang juga seru adalah karena pesawat ini nggak bisa terbang terlalu tinggi, penumpang bisa melihat-lihat pemandangan pulau-pulau yang cakep di bawah sana. Halmahera indahhh sekali dengan pepohonan yang hijau plus sungai yang membelah hutan. Beberapa teman saya bilang, ketika terbang naik pesawat kecil selama 30 menit, maka itu bisa jadi 30 menit terlama dalam hidup. Kemarin, saya terbang selama 20 menit dan merasa kurang lama. :p Nggak sabar buat terbang kembali ke Ternate Jumat nanti. Yeay!

Alhamdulillah… Sampai dengan selamat😀

– The Toilet Post

2 thoughts on “Terbang Naik Pesawat Capung

  1. Pingback: Oh, Ternate | Food & Travel

  2. Pingback: Bucket List: Maluku | Travel & Food

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s