Photography / Travel

Photo Story: Petani Gunung Kidul

Gunung Kidul

Dari perjalanan ke Gunung Kidul, saya bukan hanya menikmati keindahan goa-goanya yang luar biasa, tapi juga menikmati ketika berbincang dengan masyarakatnya yang sederhana. Ketika hari masih pagi, udara Gunung Kidul yang segar mengantarkan saya jalan-jalan ke sawah.

Gunung Kidul, sebagaimana kawasan pegunungan karst lain, adalah area yang gersang, teerutama di musim kering. Ada dua tempat yang saya kunjungi di sana: Jetis Wetan dan Umbulrejo.

Dari keduanya, kawasan Jetis Wetan lebih kering karena posisi air yang terlalu jauh di bawah tanah. Di sini, ketika kemarau datang, warga setempat tidak bisa bertani. Para petani akan bertahan dengan hasil panen musim lalu, sambil menunggu hujan datang. Satu keluarga yang tinggal di dekat Goa Kalisuci menghabiskan sore hari mereka dengan duduk di ladang kering yang biasanya mereka gunakan untuk bertanam jagung.

GunungKidul Aziz 0

Ketika mengunjungi Gunung Kidul, kebetulan musim kering sedang di ujung periodenya. Maka, sejumlah petani memanfaatkan ini untuk pergi ke ladang dan menggemburkan tanah menggunakan pacul. Dengan demikian, ketika hujan datang, tanah akan segera siap ditanami.

GunungKidul Aziz 8

Hal ini berbeda dengan yang saya lihat di Umbul Rejo. Petani di kawasan tersebut lebih beruntung karena sungai tak terlalu jauh dari tempat mereka menanam padi dan tanaman lain. Belum lama ini, mereka berswasembada untuk membeli mesin diesel yang membuat seluruh petani bisa tetap bertanam meski sedang tak ada hujan.

GunungKidul Aziz 4

Pak Sarmo, salah seorang pensiunan pegawai negeri yang kini menikmati hari-hari santai dengan bertani, pada foto di atas tampak sedang menjaga sawahnya yang sudah menguning dan siap dipanen dalam waktu dua sampai tiga hari. Dia berdiri di tengah sawah bersama sejumlah petani lain untuk menghalau burung-burung yang sedang mencari sarapan gratisan.

Sementara itum Pak Sispoyo dalam foto di bawah ini tampak sudah lebih dulu memanen di sawahnya. Walau tampilan luarnya serupa, namun yang sedang dipanen Pak Sispoyo bukanlah padi, melainkan ketan merah. Membayangkan ketan merah pagi-pagi membuat perut saya bernyanyi :p

GunungKidul Aziz 5

Setelah dipanen, maka padi-padi tersebut akan mereka bawa pulang untuk kemudian dipisahkan antara biji dan sisa tanamannya. Biji-biji padi atau ketan akan dijual kepada koperasi khusus di desa, sementara tanaman sisanya akan dikeringkan dan diolah menjadi pakan ternak. Tidak ada yang terbuang sia-sia dari hasil yang mereka tanam.

GunungKidul Aziz 6

Tampak dalam foto di atas, Bu Saminah sedang memisahkan antara biji padi dengan “sampah” yang akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Setelah dipisahkan, biji padi ini baru akan dibawa ke tempat penggilingan untuk diolah supaya dapat dikonsumsi. Sementara itu, Pak Suratnorejo tampak sedang mempersiapkan damen padi untuk dikeringkan, yang juga akan dijadikan pakan sapi miliknya.

GunungKidul Aziz 3

Senang sekali bisa mengenal kearifan masyarakat Gunung Kidul.🙂

Photos: Aziz Hasibuan

My Gunung Kidul trip was part of Blacktrail program, managed by National Geographic Indonesia and L’oreal Men Expert. Learn more about Blacktrail here.

– The Toilet Post

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s