Travel / What to do

Panjang Jimat “Humble” Keraton Kanoman

Arak-arakan Panjang Jimat di Keraton Kanoman, Cirebon

Cirebon saat ini sedang naik daun sebagai weekend gateway dari Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Kota ini, bagi saya, menawarkan nuansa yang mirip dengan Solo dan Yogyakarta. Aroma “tua” yang menarik langsung bisa kita rasakan begitu sampai di Stasiun Cirebon, berkat arsitektur peninggalan zaman Belanda yang terjaga dengan baik. Apalagi kota ini juga memiliki Keraton, seperti dua kota di bagian tengah Pulau Jawa tersebut.

Walau tidak sekental yang kita rasakan di Yogyakarta, Cirebon juga memegang teguh sejumlah tradisi. Salah satunya, dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang juga sarat budaya Jawa ini dilakukan setiap malam 1 Muharram, pada hari kelahiran Nabi Muhammad. Di Cirebon, perayaan ini disebut Panjang Jimat.

Pada Maulid Nabi Januari lalu, saya dan teman-teman main-main ke Cirebon, untuk bisa melihat langsung bagaimana Panjang Jimat berlangsung. Tantangannya adalah di setiap perayaan Maulid Nabi, maka Cirebon akan banjir pengunjung. Mereka datang dari berbagai daerah untuk berharap berkah dari Panjang Jimat.

Di Cirebon, terdapat tiga Keraton: Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Di saat upacara Panjang Jimat, Keraton Kasepuhan adalah yang paling ramai didatangi pengunjung. Karena kondisi yang terlalu padat itu, kami memutuskan untuk mengikuti perayaan di Keraton Kanoman.

Suasana padat di sekitar Kraton Kanoman Cirebon ketika iring-iringan memasuki daerah dekat pintu masuk keraton.

Walau disebut lebih humble, tapi perayaan di Keraton Kanoman pun sangat meriah. Kami melihat iring-iringan kerabat dan abdi dalem yang membawa berbagai barang pusaka dan perlengkapan rumah tangga milik Keraton. Mereka melakukan arak-arakan mulai dari gerbang depan keraton hingga ke Masjid Agung Kanoman yang dibangun pada 1679 Masehi.

Di tengah perjalanan, mereka akan melewati pintu masuk keraton. Di sini, sudah menunggu Pangeran Patih PRM Qodiran yang mewakili Sultan Kanoman. Menggunakan jubah emas, Pangeran Patih duduk di pinggir arak-arakan tanpa boleh berbicara.

Pangeran Patih PRM Qodiran yang mewakili Sultan Kanoman berjalan keluar dari Keraton siap menyambut iring-iringan Panjang Jimat.

Sepanjang prosesi, Pangeran Patih nggak diperbolehkan bicara satu kata pun.

Nantinya, Pangeran Patih dan kerabat kesultanan juga akan menyusul iring-iringan menuju Masjid Agung Kanoman untuk ikut mengaji bersama para petinggi agama setempat.

Di dalam Masjid Agung Kanoman, tidak semua orang akan bisa masuk melihat prosesi. Hanya kerabat keraton yang bisa membawa tamu masuk. Kami cukup beruntung karena ditemani oleh salah seorang kerabat keraton sehingga bisa melihat prosesi di dalam Masjid Agung Kanoman.

Permainan gamelan di perjalanan menuju Masjid Agung Kanoman. Di atas para pemain gamelan ini dipercaya sedang ada bidadari yang menari-nari.

Karena penanggalan tahun hijriyah berbeda dengan masehi, tahun 2015 akan dilaksanakan dua kali perayaan maulid nabi. Untuk yang minat datang, jangan lupa atur jadwal. Maulid Nabi kedua tahun ini akan berlangsung di 24 Desember 2015. (*)

Sebelum pergi, jangan lupa baca: 5 Catatan Penting sebelum Pergi ke Panjang Jimat

Foto-foto: Aziz Hasibuan

What do you think? Your comments are welcome...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s